Seminar Nasional Komunitas Guru TIK/KKPI Bersama Pak Anies Baswedan (Mendikbud RI), Perwakilan Komisi X DPR

Kamis, 19 Maret 2015 | komentar


           Kami dari komunitas Guru TIK dan KKPI bersungguh-sungguh dan fokus kepada perjuangan kawan-kawan mengembalikan mata pelajaran TIK dan KKPI ke dalam struktur kurikulum 2013. Bagi kami matpel TIK dan KKPI adalah harga mati.
Sekarang saatnya kita siapkan Kompetensi Dasar (KD), dan Kompetensi Inti (KI) untuk mata pelajarannya yang disampaikan langsung kepada mendikbud RI untuk dijadikan bahan masukan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) serta Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Bersiaplah kembali menyambut mata pelajaran TIK/KKPI ke dalam struktur kurikulum 2015. Allahu Akbar!
         Mari kita bersatu mewujudkannya, karena regulasinya sebentar lagi akan datang melalui permendikbud. Tentu saja dengan permen yang manis untuk semua guru TIK/KKPI. Lalu lupakan linieritas, karena kompetensi jauh lebih utama daripada selembar ijazah. Semoga ada regulasi penting yang dikeluarkan oleh pemerintah tentang ini. Guru TIK/KKPI yang tidak linier tidak dirugikan.

            Semua keluhan dan masukan sudah disampaikan. Mari kita bantu pak Anies Baswedan untuk mewujudkannya. Persatuan guru TIK dan KKPI harus didahulukan. Sudah saatnya kita tidak saling menghujat. Legal atau ilegal jangan lagi dipermasalahkan. Semua guru punya kontribusi penting untuk mengembalikan mata pelajaran TIK dan KKPI. Tidak ada satu pun guru yang paling berjasa. Semua adalah perjuangan bersama.
            Insya Allah komunitas Guru TIK dan KKPI sudah difasilitasi tempat di kantor kemendikbud untuk mengadakan seminar nasional "URGENSI MATA PELAJARAN TIK/KKPI DALAM KURIKULUM GANDA (2006 & 2013)" pada SABTU, 25 APRIL 2015 di Aula Gedung A Kemendikbud Jakarta.
           Biaya seminar GRATIS untuk 300 orang guru/mahasiswa/umum pendaftar yang menuliskan nama lengkap, alamat sekolah lengkap dengan kode posnya, serta no hp/telepon yang mudah dihubungi dan segera kirim sms ke 08159155515. Target peserta seminar 300 orang.
           Setiap peserta akan mendapatkan sertifikat seminar nasional dengan mengganti ongkos cetak yang dibayarkan langsung saat registrasi seminar sebesar Rp. 10.000,- (Sepuluh Ribu Rupiah). Kami menyediakan kotak donasi bagi peserta yang mau menyumbangkan dana untuk kegiatan komunitas guru TIK/KKPI.
          Seminar nasional Komunitas Guru TIK/KKPI Insya Allah akan dihadiri langsung Pak Anies Baswedan (Mendikbud RI), perwakilan anggota komisi X DPR, dan para pakar TIK sebagai nara sumbernya. Mari kita hadiri dan ramaikan kemenangan bersama untuk anak BANGSA. Kami optimis matpel TIK/KKPI kembali berada dalam struktur kurikulum 2013. Mari kita perjuangkan bersama.

Linieritas Ijazah Masih Masih Menjadi Masalah Guru TIK

Rabu, 18 Maret 2015 | komentar

          Hari Senin, tgl 16 Maret 2015 saya dikabari oleh teman sesama guru (PNS) TIK SMA bahwa data calon peserta sergur 2015 kami bertiga didiskualifikasi karena mapel tidak sesuai dengan Buku 1 Pedoman Sergur.
Kemudian kami menghubungi dinas. Dinas tidak bisa memberikan solusi. Kami disarankan untuk menyampaikan masalah ini ke LPMP. Kami pun langsung menuju ke LPMP bertemu 4 mata dengan pihak LPMP. Kami menyampaikan masalah kami dan pihak LPMP sudah memahaminya. Kami juga menyampaikan bahwa pada waktu kami diminta untuk mengumpulkan berkas syarat-syarat mengikuti sergur lewat PPG, kami sudah melampirkan Surat Keterangan dari kampus sebagai pelengkap ijazah kami dari Pend. Teknik Elektro dengan Konsentrasi Jurusan Teknik Komputer Informatika. Surat Keterangan tersebut kami peroleh dari kampus dan kami gunakan pada saat pertama kali seleksi CPNS Guru TIK.
         Tapi menurut pihak LPMP SK kami tersebut sudah pernah dibahas antar Dinas, LPMP dan Pihak Penyusun Buku 1. Hasilnya Sk tersebut tidak bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk linieritas, tetap mengacu secara saklek pada apa yang tertulis di Buku 1 bahwa untuk mapel TIK ijazah yang linier hanya dari Teknik Komputer/Informatika dan Pendidikan Teknik Informatika.
Pihak LPMP sebagai yang berwenang menentukan data verifikasi tidak berani memberikan dispensasi untuk kami dan intinya mereka tidak mau disalahkan atas keputusan verifikasi data peserta. Kemudian pihak LPMP menyarankan kpd kami utk menyampaikan masalah kami ke pihak UNY sebagai salah satu team penyusun Buku 1. Dengan maksud apabila kami menyampaikan keluh kesah masalah kami maka bisa menjadi masukan dan bahan pertimbangan para penyusun kebijakan pada Buku 1 utk melakukan revisi di tahun depan.
Kami pun langsung menuju LPPMP UNY untak menemui salah seorg Prof dimana beliau adalah salah satu anggota team penyusun Buku 1.Disana kami tidak dapat menemui beliau krn kebetulan beliau baru ada kegiatan di luar. Kami diterima oleh asisten beliau. Kami menyampaikan secara panjang lebar dan sedetail-detailnya permasalahan kami. Menurut asisten tersebut memang banyak permasalahan yang serupa juga yang menimpa guru mapel lain selain TIK.
Oleh beliau kami diminta menuliskan pesan permasalahan kami tersebut di Buku Tamu. Kami juga melampirkan print out data sergur kami yang tidak terverifikasi. Ada dua hal yang kami sampaikan :
1. Masalah linieritas anatr Ijazah Pend. Teknik Elektro dengan adanya Surat Keterangan dari kampus
    Konsentrasi Jurusan Teknik Komputer Informatika
2. Masalah pemberlakuan K13 ke depan yang telah meniadakan mapel TIK yang digantikan oleh BTIK bukan sebagai mapel. Padahal BTIK sendiri tidak ada/tidak diakui di Buku 1.
Kami mohon solusi kepada pihak UNY untuk masalah-masalah tersebut. Sebab kami menangkap pesan yang tersirat dari dialog dengan pihak LPMP bahwa jika tidak ada perubahan pada Buku 1 maka masalah seperti kami ini dan yang sejenisnya akan terus terkatung-katung tanpa penyelesaian.
Mohon saran dan komentar dari teman-teman semua seperjuangan, senasib sepenanggungan.

copas dari status bu Rozikoh Rossy

Kurangnya keterampilan berbahasa Inggris menjadi penghambat utama studi ke luar negeri.

Jumat, 13 Maret 2015 | komentar

BOSTON, KOMPAS — Minimnya keterampilan berbahasa Inggris masih menjadi penghalang serius bagi siswa, mahasiswa, atau para pekerja Indonesia untuk belajar ke luar negeri. Padahal, dari sisi akademis, mereka mampu bersaing di luar negeri.
Itu diungkapkan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Taufik Hanafi, Kamis (12/3), menjelang Language Education Innovation Forum di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Aloysius Budi Kurniawan, dari Boston.
Menurut Taufik, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Kedutaan Besar Australia dan Belanda pada 2009 pernah melakukan studi dan analisis untuk menelusuri hambatan utama studi ke luar negeri. Ternyata, kurangnya keterampilan berbahasa Inggris menjadi penghambat utama. Guna menyikapi itu, lembaga pemerintah atau perusahaan swasta yang ingin menyekolahkan pegawainya ke luar negeri diimbau juga memperkuat kemampuan berbahasa dan menulis mereka.
Keterampilan mengajar
Executive Vice President Global Classroom Foundation EF Education First Kate Berseth mengatakan, dalam mempelajari bahasa, selain memahami materi, seorang guru juga harus terampil mengajar. "Pembelajaran bahasa Inggris tidak hanya fokus pada murid, tetapi juga pada kemampuan mengajar guru," ujarnya.
Berdasarkan indeks kemampuan berbahasa Inggris yang diluncurkan EF tahun lalu, Indonesia berada di peringkat ke-28 dari total 63 negara yang tersebar di kawasan Asia, Eropa, Amerika Latin, negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara, serta negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok). Dalam peringkat itu, Indonesia tergolong dalam kelompok negara dengan kemampuan berbahasa Inggris sedang, jauh di bawah Malaysia (peringkat ke-12) dan Singapura (peringkat ke-13) yang tergolong kelompok negara berkemampuan bahasa Inggris tinggi.
Senior Vice President for Academic Affairs EF Education First Christopher McCormick menyatakan, sebelum pengajaran, terlebih dulu perlu dilakukan evaluasi standar guru bahasa Inggris.
"Guru bahasa Inggris dengan kemampuan kurang, keterampilan mengajarnya perlu dinaikkan," ujarnya.
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Maret 2015, di halaman 11 dengan judul "Bahasa Menjadi Penghalang".

Mata Pelajaran TIK Itu Penting Pak Menteri Anies Baswedan

Kamis, 12 Maret 2015 | komentar

Coba ditanya secara langsung kepada anak-anak Indonesia. Pasti mereka akan mengatakan, “mata pelajaran TIK itu penting”. Apa itu TIK? Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sebuah mata pelajaran wajib di Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, dan kemudian dihapuskan di kurikulum 2013. Di sekolah Menengah Kejuruan (SMK), mata pejajaran ini bernama Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI).
Dalam kurikulum 2013, muncullah mata pelajaran baru yang bernama prakarya menggusur TIK. Tidak jelas landasan hukum, empirik, dan konseptualnya. Sebab sampai saat ini belum pernah ada jurusan prakarya di perguruan tinggi, dan belum ada sarjana prakarya. Sampai pada akhirnya guru TIK tersandera dan dialihkan menjadi guru prakarya. Padahal pak Musliar Kasim (Wakil Mendikbud saat itu) mengatakan, “Guru TIK tidak boleh menjadi guru Prakarya”. Guru TIK akhirnya, terdzholimi, dan banyak yang terpaksa di PHK.
Pelajaran TIK boleh tidak ada dalam kurikulum 2013. Namun demikian, mata Pelajaran TIK tidak akan pernah mati dan akan selalu di hati. Sampai saat ini ribuan guru TIK dan KKPI masih berjuang mengembalikan mata pelajaran TIK/KKPI ke dalam kurikulum sekolah kita. TIK bukan hanya sebuah tools yang terintegrasi ke semua mata pelajaran, tetapi TIK sebagai sebuah keilmuan atau sains harus dipertahankan agar pondasi TIK yang dimiliki anak Indonesia tidak kalah dengan anak luar negeri. Kita harus mampu menjadi produsen di bidang TIK, dan tidak melulu hanya menjadi konsumen TIK.
Selamat datang kembali mata pelajaran TIK dan KKPI, kami semua siap menyambutmu. Kami semua merindukanmu di tahun ajaran baru.
Mata pelajaran TIK itu penting pak menteri, Anies Baswedan, dan mohon dikembalikan lagi dalam struktur kurikulum sekolah kita. Para guru dan siswa di sekolah pasti akan berkata, “Selamat datang kembali mata pelajaran TIK, dan KKPI. Kusambut engkau dengan Bismillah”.

http://youtu.be/p8GEBwTst4Q

Internet untuk Pemerataan Pendidikan

Rabu, 11 Maret 2015 | komentar

Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan: Untuk mendorong penggunaan internet, konten buatan guru diakui sebagai karya ilmiah. Namun, Kemendikbud baru mengusulkan kepada BSNP untuk membuat standar konten


JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, sebanyak 117.277 atau sekitar 50 persen dari jumlah sekolah di Indonesia telah mengakses internet pada pertengahan 2014. Namun, sebagai salah satu cara pemerataan akses pendidikan, pembangunan teknologi pembelajaran itu seharusnya dimulai dari daerah.



Seperti diwartakan sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, pengguna internet meningkat dari 74 juta orang pada 2013 menjadi 111 juta orang tahun 2014. Dunia pendidikan pun mulai merengkuh internet sebagai bagian alat dukung.
Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ari Santoso mengatakan, infrastruktur untuk internet belum terpenuhi di beberapa daerah, khususnya wilayah timur Indonesia. "Namun, kami menargetkan semua sekolah dapat mengakses internet pada 2019," ujar Ari, Senin (9/3), di Jakarta. Saat ini, di Indonesia terdapat 234.919 sekolah, terdiri atas jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah.
Untuk tercapainya akses internet ke semua sekolah, Ari mengatakan, terdapat dana untuk mengakses internet dalam petunjuk teknis bantuan operasional sekolah. Dana tersebut untuk setiap murid SD sebesar Rp 700.000, SMP sebesar Rp 1 juta, dan SMA sebesar Rp 1,2 juta per tahun mulai 2015.
"Setiap sekolah sudah dapat membangun infrastruktur untuk internet," kata Ari yang juga merupakan Plt Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pembangunan infrastruktur akses internet bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menyiapkan konten yang akan menjadi bahan pembelajaran murid melalui internet. Konten digital tersebut antara lain berbentuk gambar, audio, animasi, video, dan buku internet (e-book) yang terkait dengan pendidikan. Hingga kini, tercatat sekitar 70.000 konten. "Konten ini akan membantu murid yang berada di daerah dapat mengakses ilmu yang sama dengan di kota," lanjut Ari.
Pemerataan
Pengamat pendidikan, yang juga Guru Besar Matematika di Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto mengatakan, keberadaan internet di sekolah bertujuan memeratakan akses pendidikan di kota dan daerah. "Jadi, daerah yang paling utama dan pertama membutuhkan internet, bukan kota," katanya.
Terlebih lagi, jumlah guru masih sedikit di daerah sehingga murid kadang tidak bersekolah. Keberadaan internet dapat menjangkau daerah terpencil untuk proses pembelajaran bagi murid. "Internet tidak menggantikan guru, tetapi menjadi solusi untuk daerah yang tidak memiliki guru," kata Iwan.
Selain internet, teknologi pembelajaran dalam bentuk luring (luar jaringan) juga dapat menjadi media pembelajaran. Komputer dapat diisi dengan buku-buku digital, film edukasi, animasi, dan soal-soal mata pelajaran. "Murid dapat belajar sendiri tanpa guru," lanjut Iwan.
SMA terbuka
Ari mengatakan, pemerintah juga memanfaatkan internet untuk membuat program SMA terbuka di tujuh daerah, yakni Sorong, Padalarang, Merangin, Narmada, Kepanjen, Gambut, dan Davao. SMA terbuka menggunakan fasilitas teknologi informatika dengan bimbingan belajar secara daring sekitar 80 persen dan tatap muka 20 persen.
Saat ini, jumlah murid di SMA terbuka sebanyak 960 orang dan telah ada 126 modul. Program yang dilakukan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus itu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi murid di daerah.
"Ini adalah bentuk pembelajaran jarak jauh. Meski tidak dapat datang karena masalah jarak, mereka tetap bisa belajar," kata Ari.
Pihaknya juga telah membuat pelatihan teknologi informatika untuk guru. Dari total sekitar 3 juta guru, terdapat sekitar 10.000 guru master, yakni guru yang telah mendapatkan pelatihan dan dapat melatih guru lain. Saat ini, 90.000 guru aktif menggunakan internet sebagai teknologi pembelajaran. "Keaktifan guru menjadikan persebaran pengetahuan semakin besar," kata Ari.
Untuk mendorong penggunaan internet, konten buatan guru diakui sebagai karya ilmiah. "Namun, kami baru mengusulkan kepada Badan Standar Nasional Pendidikan untuk membuat standar konten," ujar Ari. (B05)
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Maret 2015, di halaman 11 dengan judul "Internet untuk Pemerataan Pendidikan".

Komunitas Guru TIK/KKPI bertemu ketua BSNP di Jakarta

Minggu, 08 Maret 2015 | komentar

Haji Lulung masuk trending topik di twitter. Saat wawancara di radio elshinta, beliau katakan tak memiliki akun twitter. Sebuah keluguan yang disampaikan langsung oleh beliau kepada khlayak ramai yang mendengarkan langsung siaran radio elshinta Jakarta.Beliau langsung terkenal tanpa harus keluar duit banyak.
Saya tersenyum-senyum sendiri dibuatnya. Di dalam mobil saya hanya bisa bergumam. Inilah akibatnya bila haji Lulung sebagai anggota DPRD tak mengenal mata pelajaran TIK. Beliau juga salah mengucapkan antara "USB dan UPS". Sebuah alat yang dikenalkan dalam pelajaran TIK di sekolah. USB biasanya berbentuk kecil dan bisa dikantungin, sedang UPS biasanya berbentuk besar krn sebagai pengganti daya bila listrik padam.


Sabtu, 7 Maret 2015 Komunitas Guru TIK dan KKPI Bersama Ketua BSNP, Prof. Ir. Zainal Arifin Hasibuan, Ph.D, kami diskusi tentang " ICT implementation in high school " di kantornya jl RS Fatmawati, Cipete Jakarta Selatan. Kami banyak mendapatkan masukan tentang pentingnya mata pelajaran TIK diajarkan di sekolah. Bila mereka tak mendapatkan ilmunya sejak di bangku sekolah, maka etika di media sosial bisa dipastikan semau gue.
Hari Sabtu, 7 Maret 2015 pukul 13 wib perwakilan komunitas guru tik dan kkpi kembali bertemu ketua badan standar nasional pendidikan, Prof Zainal A Hasibuan yang akrab dipanggil pak Ucok. Dari guru tik smp diwakili omjay, guru tik sma pak youri, dan guru kkpi smk ibu nurhayati. Sedangkan pak agung mewakili guru tik kemenag ma dan mts. Kami berempat mendapatkan masukan yang sangat penting tentang revisi permen 68 yaitu peran guru tik dan kkpi serta mata pelajarannya yang hilang dalam kurikulum 2013.
Kita tetap menuntut pemerintah untuk mengembalikan matpel tik dan kkpi ke dalam struktur kurikulum 2013, dan menolak permen 68 ttg peran guru tik/kkpi yg mengusir guru tik dan kkpi yg sdh berjasa besar buat negeri ini walaupun bukan sarjana tik. Kalau setiap sekolah diberikan kewenangan utk menjalankan kurikulum, kira kira sekolah anda akan menerapkan tik sebagai mata pelajaran sesuai ktsp2006 atau tik sebagai layanan seperti kur13?
Komunitas Guru TIK/KKPI bertemu ketua BSNP di Jakarta

Surat Pernyataan Kepada PGRI

Jumat, 06 Maret 2015 | komentar

Yth. Bapak Ketua PGRI

Jika melihat uji publik kurikulum 2013 banyak guru-guru TIK SMP di seluruh Indonesia tidak setuju dengan di integrasikan mapel TIK di SMP dengan mapel yg lain. Padahal mapel TIK selama ini yang berdiri sendiri justru sangat berperan dalam meningkatkan ketrampilan siswa dalam menggunakan media TIK dari membuat dokumen pengolah kata, pengolah angka dan internet dan jaringan komputer.
Adalah sangat di sayangkan apabila mapel TIK di integrasikan dengan mapel lain. Hal ini jelas tidak menutup kemungkinan siswa smp hanya bisa melihat guru menggunakan media TIK tanpa ada keahlian siswa dalam menggunakan media TIK.
Dengan adanya mapel TIK berdiri sendiri justru siswa sudah dibekali dalam menggunakan media TIK sebagai bahan mencari refernsi pelajaran mapel lain.
Bayangkan jika mapel TIK di integrasikan dengan mapel lain, siswa smp yang belum mengenal TIK tidak dapat memanfaatkan TIK (Internet) sebagai bahan referensi belajar siswa karena siswa tidak diajarkan secara khusus dalam penggunaan Internet. mungkin bisa bagi siswa di kota-kota besar yang sudah ditunjang dengan TIK tapi bagaimana siswa yang dengan keterbatasan memiliki komputer?
Jika melihat kurikulum 2013 yang hanya fokus pada mapel UN padalah mapel TIK juga sangat menunjang dalam memberikan keahlian kelak setelah siswa akan melanjutkan ke jenjang SMA/SMK. jadi siswa tidak kaget dengan hal baru (TIK) hanya di kelas SMA/SMK. siswa sudah siap dengan mapel TIK jika di SMP/MTs sudah memperolehnya tinggal pendalaman materi z / materi pengembangan TIK saja guna pembekalan setelah lulus SMA/SMK.
Guru TIK juga sangat berperan demi kemajuan IT di sekolah masing-masing. Bagaimana nasib guru TIK SMP/MTs apabila mapel TIK tidak berdiri sendiri? kami mohon kepada PGRI untuk dapat memperjuangkan mapel TIK SMP untuk dapat berdiri sendiri tidak di integrasikan dengan mapel lain, besar harapan kami bapak ketua PGRI semoga bermanfaat demi kemaslahatan guru TIK SMP di seluruh Indonesia

http://www.pgri.or.id/…/6-profes…/47-nasib-guru-tik-smp.html

Flickr kini memberikan free storage sebesar 1 Terabyte

Kamis, 05 Maret 2015 | komentar

Flickr memberikan free storage 1 Terabyte.

Setelah mengumumkan pembelian Tumblr seharga $1,1 Milyar ternyata hari ini Yahoo juga memberi kejutan lain yaitu dengan mengupdate besar-besaran terhadap situs photo sharing miliknya yg dibeli pada tahun 2005 seharga $35 juta yaitu Flickr.


Flickr kini memberikan kapasitas penyimpanan extra besar yaitu 1 Terabyte (1.000 GB) ke semua usernya, atau jauh lebih besar ketimbang Google+ Photo yang hanya 15GB ataupun layanan file sharing lain.
Space besar tersebut dapat dipakai oleh user untuk mengupload foto secara full resolution sampai ukuran maximum 200 MB/foto, upload video HD 1080p sampai 3 menit, serta mampu mengupload & download foto dalam kualitas sebenarnya.
Selain kapasitas yang sangat besar; Flickr juga memberikan update design website seperti desain homepage yg clean dengan photostream & tampilan mirip timeline. User juga dapat menshare foto di Flickr ke jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan Tumblr.
Tidak lupa Flickr juga merilis update applikasi bagi pengguna yang ingin mengakses Flickr secara mobile (iOS & hh Android) yang dapat didownload dari appstore atau Google Play.

infoteknologi.com

Menteri Anies: Kualitas Guru RI Masih di Bawah Rata-rata

| komentar

Anies berharap kompetensi guru Indonesia mencapai tingkat 7. 
 

Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan menilai hingga saat ini kualitas guru di Indonesia, belum seperti yang diharapkan, sehingga perlu peningkatan kemampuan guru di Indonesia.
"Kualitas guru di Indonesia masih di bawah rata-rata, sehingga perlu ditingkatkan. Generasi saat ini produk dari guru, lalu bayangkan bagaimana jika kualitas guru tidak ditingkatkan," katanya di Yogyakarta, Kamis 5 Maret 2015.
Anies berharap dalam uji kompetensi, para guru di Indonesia bisa mencapai tingkat 7. Sedangkan saat ini, kompetensinya masih jauh. "Masih 4, 6, sehingga akan kita tingkatkan," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, mantan Rektor Universitas Paramadina itu juga menegaskan Ujian Nasional (UN) tidak mutlak syarat masuk perguruan tinggi. Syarat masuk akan diserahkan ke masing-masing perguruan tinggi.

"Semua tergantung rektor dan perguruan tinggi yang bersangkutan," ujarnya.

Anies juga menjelaskan untuk kelulusan ujian nasional online yang akan dilakukan sekolah, menggunakan seluruh pelajaran, termasuk karakter dan perilaku.

"Kita percayakan untuk jujur. Bukan saja enam mata pelajaran, tetapi menggunakan seluruh pelajaran, termasuk karakter dan perilaku," kata dia.
Lebih jauh, Anies mengatakan ujian nasional berbasis komputer memiliki keunggulan dibanding ujian dengan menggunakan kertas. Sebab, dengan peserta UN mencapai 7,3 juta, jika dikerjakan menggunakan kertas, harus dilaksanakan secara serentak. Tapi bila menggunakan ujian komputer, UN bisa dilakukan berbeda waktu.

"Bukan UN online, tetapi ujian dikerjakan menggunakan komputer. Ujian komputer bisa dikerjakan berbeda waktunya," tuturnya. (asp)

Oleh : Amal Nur NgazisDaru Waskita (Yogyakarta)

Sejarah Terbentuknya Komunitas Guru TIK dan KKPI

Rabu, 04 Maret 2015 | komentar

Sejak diterapkannya Kurikulum 2013, mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) tidak lagi menjadi pelajaran wajib yang berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan mata pelajaran lainnya.
Mendikbud Muhammad Nuh beralasan bila berdiri sendiri, masih dipertanyakan kesiapan dari SDM, infrastruktur dan kontennya.
Dampak dari dihilangkannya mata pelajaran TIK adalah akan terjadi gradasi dan kesenjangan teknologi informasi dan komunikasi antara pelajar di daerah perkotaan dengan yang di pedesaan serta pedalaman karena mata rantainya yang telah terbentuk mulai tahun 2004 telah terputus.
Atas dasar itulah para guru TIK membentuk Komunitas Guru TIK/KKPI pada 23 Januari 2014 di UPI Bandung. Namun dalam pelaksanaannya organisasi ini terpecah menjadi 2 yaitu AGTIKKNAS dan AGTIFINDO.
"Organisasi ini merupakan wadah komunitas guru TIK dari berbagai jenjang, mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK di seluruh Indonesia, yang keberadaannya diharapkan mampu menampung aspirasi dari guru TIK seluruh Indonesia," demikian siaran pers Komunitas, Kamis (06/03).
Pernyataan sikap Komunitas Guru TIK dan KKPI telah bergulir dan telah dilaksanakan oleh beberapa sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project.
Beberapa pendekatan dipakai agar peserta didik memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang jauh lebih baik, namun pengetahuan yang memerlukan kreativitas dan inovasi berpikir justru dihilangkan dari kurikulum ini.
Hilangnya mata pelajaran itu ditegaskan dalam PP No. 32/2013 sebagai revisi dan pengganti PP No. 19/2005.
Menurut wijaya, hilangnya mata pelajaran TIK dan KKPI adalah fenomena yang menarik sekaligus absurd di tengah-tengah hingar bingar perkembangan teknologi informasi dalam menopang kemajuan pendidikan di Indonesia.
Alasan pemerintah menghilangkan mata pelajaran ini di antaranya pembelajaran sudah seharusnya berbasis TIK (alat bantu guru dalam mengajar), bukan TIK sebagai mata pelajaran khusus yang harus diajarkan.
Selain itu, jika TIK masuk struktur kurikulum nasional maka pemerintah berkewajiban menyediakan laboratorium komputer untuk seluruh sekolah di Indonesia, dan pemerintah tidak sanggup untuk mengadakannya, belum lagi banyak sekolah yang belum teraliri listrik.
Menurut para guru TIK dan KKPI, jika TIK dianggap akan memberatkan pemerintah karena implikasinya pemerintah harus menyediakan sarana dan prasarananya maka terkesan pemerintah ingin lepas dari tanggung jawab karena anggaran pendidikan yang mencapai 20 persen sudah tinggi.
Selain itu, dengan adanya TIK dan KKPI sebagai mata pelajaran, maka pemerintah secara tidak langsung akan dipaksa untuk membangun infrastruktur listrik dan mengalirkannya hingga pedesaan. Dengan demikian Indonesia akan maju semakin pesat.
Dan keberadaan mata pelajaran TIK dan KKPI selama kurun waktu 10 tahun terakhir membawa perubahan besar terhadap wajah pendidikan dan menjadi pemicu akselerasi sistem pembelajaran di Indonesia.
"Mendesak diadakannya uji publik mengenai keberadaan mata pelajaran TIK di sekolah, sebagai bentuk penting tidaknya atau layak tidaknya TIK di kurikulum 2013," ungkap koordinator Komunitas Guru TIK/KKPI.

Mendikbud: Di Balik Siswa Hebat Terdapat Guru yang Hebat

Selasa, 03 Maret 2015 | komentar


Surakarta, Mendikbud --- Bila melihat alumni dari suatu sekolah menjadi orang sukses dan hebat, hal tidak terlepas dari peran guru yang luar biasa. Itu sebabnya dibalik siswa yang hebat terdapat guru yang hebat juga. Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan saat kunjungannya ke Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro, Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (26/02/2015).
"Jadilah guru yang teladan. Saya yakin guru yang ada di sini adalah guru-guru yang hebat dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa," kata Mendikbud.
Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro berdiri sejak tahun 1928. Mendikbud melihat bahwa yayasan ini sudah memikirkan pendidikan bagi masyarakat Indonesia sebelum Indonesia merdeka. “Menjadi tugas mulia bagi para guru disini mewarisi lembaga pendidikan yang memiliki usia panjang,” ucap Mendikbud.
Mendikbud berharap para guru yang tetap terus mewarisi keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan di Yayasan Diponegoro ini dapat mejadi teladan bagi para siswa. Jadikan sekolah memiliki suasana menyenangkan. Guru dapat bertanya kepada siswa bagaimana suasana belajar yang diharapkan. “Agar siswa dapat senang berlajar, senang datang ke sekolah. Saya yakin guru-guru disini adalah guru-guru yang menyenangkan,” tutur Mendikbud.
Pada kesempatan ini Mendikbud didampingi Walikota Surakarta F.X Hadi Rudyatmo meresmikan gedung baru SMP Islam Putri Diponegoro. Gedung baru ini nantinya digunakan sebagai tempat belajar khusus bagi para peserta didik wanita. “Saya ucapkan terima kasih kepada sekolah ini yang telah menciptakan anak-anak terbaik Indonesia. Isya Allah Sekolah Diponegoro bisa jadi contoh sekolah-sekolah lainnya,” kata Mendikbud. (Seno Hartono/Sumber: portal kemdikbud/pengunggah: Erika Hutapea)

Proses Pendidikan Harus Menyentuh Karakter

| komentar




Bandung, Kemendikbud --- Menumbuhkan karakter mulia pada diri anak diperlukan interaksi yang baik antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. Lingkungan rumah, sekolah, dan keseharian anak-anak harus menerapkan strategi pengembangan karakter dan perilaku agar terbentuk kepribadian anak yang baik.
Demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan dalam Seminar Nasional Pendidikan yang diselenggarakan di Gedung Merdeka Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung, Sabtu (28/2/2015). Seminar yang dihadiri oleh mayoritas guru dan kepala sekolah ini bertajuk "Investasi Bangsa Melalui Pendidikan Karakter Sejak Dini untuk Membangun Indonesia yang Bermartabat".
"Proses belajar yang tidak menyentuh karakter bukanlah disebut sebagai pendidikan. Oleh karena itu, karakter itu harus. Maka tumbuhkan karakter baik pada anak-anak itu dengan tiga strategi pengembangan karakter dan perilaku," tegas Mendikbud.
Strategi itu adalah keteladanan, pembiasaan rutinitas, dan disiplin. Menurut Mendikbud menumbuhkan karakter bukan dilakukan melalui lisan, melainkan perbuatan. Mendikbud mencontohkan, jika orang tua ingin anaknya mematuhi rambu-rambu lalu lintas, maka orang tua juga harus melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak melanggar peraturan selama berada di jalan raya.
Ketegasan yang mendidik juga perlu diterapkan agar menumbuhkan kepercayaan antara anak dan orang tua, guru, serta masyarakat. Mendikbud kembali mencontohkan, anak terkadang melakukan negosiasi-negosiasi agar keinginannya dipenuhi. Orang tua harus menjaga konsistensi terhadap keputusan yang telah ia tetapkan.
"Misalnya, orang tua harus pergi, sementara anak tetap tinggal di rumah. Meski anak merengek, orang tua harus menjaga ketegasan terhadap keputusannya. Dengan diberikan pengertian seperti itu, anak perlahan akan tumbuh mutual trust terhadap orang tuanya," tutur Mendikbud.
Oleh karena itu, Kementerian memiliki cita-cita, yaitu terbentuknya insan dan ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dan dilandasi semangat gotong royong. "Kami ingin ada penguatan terhadap aktor-aktor pendidikan, yaitu orang tua, guru, kepala sekolah, agar apa yang kita cita-citakan terwujud demi pendidikan di Indonesia yang lebih baik," jelasnya. (Ratih Anbarini/Sumber: portal kemdikbud/pengunggah: Erika Hutapea)
 
Support : Creating Website | Risqk Template | ReDesign Mas Ris Template
Copyright © 2015. KOGTIKPI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger